Mata Penuh Darah

Kumpulan Cerpen, Mata Penuh Darah

Baca buku lagi, Sodara.

Seminggu ini saya membaca Mata Penuh Darah: Dua Peristiwa, 1966-2033 (yang akan saya sebut sebagai Mata Penuh Darah saja), kumpulan cerita pendek (cerpen) yang ditulis oleh 18 penulis. Bagi saya yang menggemari cerpen, buku seperti ini adalah pom bensin di tengah perjalanan puluhan kilometer. Tempat rehat setelah perjalanan panjang melelahkan tangan, kaki, dan fokus pikiran.

Mata Penuh Darah dibuka oleh Agus Noor, sebagai Prolog. Ia membahas cerita-cerita soal masa depan dan fantasi yang akan selalu ada di dunia. Dulu maupun sekarang. Cerita tentang robot atau kalau dalam agama, cerita tentang juru selamat.

Agus Noor menyebutkan beberapa judul cerpen dalam buku ini sebagai contoh topik yang sedang dibahas. Misalnya, ia menyebut judul Secangkir Kopi Ethanolic adalah upaya meyakinkan mengenai latar masa depan sebagai penerapan “formulasi teknologis”.

Bagi saya, prolog ini sedikit ruwet. Namun saya yakin seiring saya membaca cerita-cerita di dalamnya, pasti akan paham sendiri. Tentu, ini merupakan asumsi …

Pernyataan terfavorit dari seorang Agus Noor melalui Prolog-nya adalah sindiran kepada umat manusia melalui perumpamaan robot yang hobi membaca karena takut terpapar risiko seperti manusia–terancam punah karena lupa membaca. Sindiran yang sangat relevan.

Lihat saja berapa kali kasus razia buku di negeri ini terjadi? Literasi di Indonesia masih terhitung rendah. Masih saja buku dirazia. Maunya apa? Memberangus pikiran kritis lalu menyuruh pemilik pikiran untuk manut-manut saja lalu ditembak di tempat?

Mata Penuh Darah

Kembali ke topik.

Mata Penuh Darah merupakan kumpulan cerpen untuk memperingati satu dekade Shira Media (sang penerbit buku). Judul tersebut juga merupakan salah satu judul cerpen yang ditulis Faisal Oddang. Cerita yang lumayan gelap. Saya jadi teringat G30S/PKI dengan narasi pemerintah yang begitu kelam. Film yang kerap disetel oleh stasiun televisi itu, lho.

Cerpen Siapa yang Membawa Lesatan Ingatan ini Bermuara? oleh Teguh Dewangga menampakkan fenomena sosial tentang mudahnya sekelompok orang menuduh sekelompok lain sebagai biang kesesatan. Bahkan hingga mengorbankan nyawa. Lagi-lagi, cerita yang relevan dengan masa kini.

Vanesia, karya Pringadi Abdi Surya, membahas isu banjir Jakarta yang tidak pernah surut, yang diperparah oleh proyek reklamasi. Tidak dibahas secara langsung, tapi melalui cerita Jakarta yang kini serupa Vanesia, kota di Italia. Bagus di awal, tapi diakhir justru membahas generasi vetsin. Macam mana ini.

Pada Perempuan dari Jalan Kuno Lingkar, Pilo Poly bercerita tentang pemberontakan. Coba bayangkan film Hunger Games dan Star Wars, nah kurang lebih seperti itu.

Sebagian cerpen memang membahas isu-isu sosial dan lingkungan tetapi ada juga yang membahas masalah personal. Mengenang Olea oleh Wi Noya menceritakan kisah manusia yang “menghidupkan” kembali orang mati melalui teknologi. Namun meskipun “menghidupkan” kembali orang mati adalah hal mengharukan, sebagian orang malah merasa tidak nyaman. Setiap manusia memang memiliki cara sendiri untuk mengenang sang kasih. Walau dengan sekadar ingatan.

Ada juga yang bercerita tentang keramahan dan kepedulian. Bukan pada manusia, tetapi pada robot. Hingga sang empu mencintainya. Cerita ini dapat ditemukan di Secangkir Kopi Ethanolic oleh Ahmad Ijazi H. Cerita yang pendek dan menarik hati.

Cerita personal juga tersaji pada Sembilan yang Kedelapan oleh Asmi. Kisah satu ini sangat manusiawi, tentang dua pasangan suami istri yang akhirnya berpisah tetapi berjanji untuk tetap mengadakan perayaan hari jadi. Dijamin akan memantik perasaan korban perselingkuhan atau pelaku perceraian.

Cerpen yang bernapas sama, tapi lebih liar, dituliskan oleh Bernard Batubara. Berjudul Percintaan Terakhir M. Pokoknya, soo wiiild … Sedangkan untuk mewakili cerita personal relijius, ada Katakombe Santa Fallecia oleh Agus Noor. Cerita ini salah satu favorit saya, sih.

Kalau perpaduan antara teknologi dan budaya Jawa, ada Program Pembaca Nasib oleh Muhamad Aan. Keren, asli. Cerita ini dapat menjadi perkenalan awal dengan ilmu weton. Yaa, meskipun tetap sedikit samar.

Buku kumpulan cerpen Mata Penuh Darah membawa begitu banyak pesan dan rasa. Bahkan membingungkan. Bagi saya, saya masih belum mengerti Ule Sondok So-Len oleh Ai El Afif. Bahkan saya juga belum bisa menikmati Budayut-nya Toni Lesmana.

Saat terus membaca, saya menemukan keunikan tersendiri pada sebagian cerpen, termasuk cerpen Adam-Hawa, Iblis, dan Eksperimen Ali Mugeni oleh Ken Anggara, cerpen yang hanya memiliki satu kalimat saja.

Tidak banyak cerita pada buku ini yang dapat saya nikmati. Namun, secara umum, buku Mata Penuh Darah dapat menjadi hiburan dan referensi bagi para penikmat cerita-cerita pendek.


Judul: Mata Penuh Darah: Dua Peristiwa, 1966-2033
Penulis: Faisal Oddang dkk
Penerbit: Shira Media
Tebal: 206

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s