Siluet keluarga

Panggil Sesuai Usia atau Silsilah?

Apa yang Anda rasakan saat harus memanggil orang belasan tahun lebih tua dengan ‘dik’? Atau sebaliknya, memanggil orang dengan silisih usia belasan tahun lebih muda dengan ‘mas’?

Canggung? Tidak enak? Tidak nyaman? Atau justru terbiasa dan menikmati?

Lalu, bagaimana perasaan Anda saat melihat orang seperti di atas?

Bingung? Merasa aneh sambil berteriak, “ada apa dengan planet ini?!!”

Omong-omong keluarga saya adalah salah satu dari keluarga yang menerapkan panggilan sesuai silsilah keluarga. Sebelum mas/mbak pembaca sekalian memincingkan mata, saya akan sedikit mendongeng tentang silsilah keluarga dalam satu blok tanah, di mana salah satu pembagian blok tanah itu adalah rumah yang saya tinggali saat ini.

Silsilah keluarga

Simbah buyut saya (generasi 1) adalah pemilik satu blok tanah yang saat ini terbagi dalam lima blok tanah. Beruntung, bapak dari bapak saya (generasi 2) adalah putra pertama dari simbah buyut sehingga keluarga yang menempati empat blok tanah lainnya secara otomatis akan memanggil bapak saya (generasi 3) dengan ‘kang’ atau ‘mas’.

Terasa membingungkan? Tak apa, tak perlu dipikir keras kecuali situ berminat jadi menantu bapak/ibu saya.

Secara otomatis pula, saya (generasi 4) adalah putra “tertua” dari para putra/i yang menempati empat tanah lainnya. Berarti, saya adalah kakak (mas) dari putra/i tersebut.

Dari sini terlihat, saya “harus” memanggil mereka dengan ‘dik’.

Panggil sesuai silsilah

Sejak kecil, saya dan kakak saya diajari untuk memanggil para saudara generasi 4 ini dengan ‘dik’, minimal untuk satu keluarga yang kami sangat akrab dengannya. Generasi 4, yang berjumlah empat orang, dari keluarga tersebut memiliki usia yang sangat jauh di atas kami, belasan tahunlah.

Dulu ada kejadian menarik. Sewaktu kakak saya pulang sekolah, entah TK atau SD, dia melewati sawah di mana salah satu putri dari keluarga tersebut sedang menanam/memanen padi. Secara spontan, kakak saya menyapa, “dik!”

Rekan yang disapa pun heran, “lho, kok kamu dipanggil ‘dik’?”

“Lah, tepatnya dia (kakak saya -pen) itu memang kakak saya,” timpal yang disapa.

Sampai saat ini pun kami biasa memanggil mereka dengan sebutan ‘dik’, meski sering terdistraksi dengan menyebut ‘bro’ atau menyebut ‘bapak/ibunya si anu’.

Di sisi keluarga ibu, bulik (adik ibu) dan kakak saya usianya tak terpaut jauh. Zaman kecil, meski bulik saya masih SD/SMP sudah dipanggil sebagai ‘bulik’ oleh kakak saya, di mana saat itu bulik saya cukup risih, “masih mudah kok dipanggil bulik??”. Dan juga, silsilah dari simbah ibu saya jika diturut hingga ke bawah, ada seorang pakde yang usianya juga tak jauh dari saya dan kakak saya, bahkan lebih muda dari ibu saya. Tebak, dia juga kami panggil “pakde!” ๐Ÿ˜

Karena pembiasaan

Untuk mengajarkan pemanggilan sesuai silsilah keluarga ini sebenarnya sangat sederhana.

Layaknya orang tua lain yang mengajar anaknya untuk memanggil si anu dengan ‘mas anu’, ‘dik anu’, ‘om anu’, dsb, sejak dulu bapak/ibu saya memanggilkan saudara kami dengan ‘dik A’, ‘dik B’, ‘dik C’, dll. Sehingga hal itu menjadi kebiasaan, bahkan menjadi “keharusan” ketika kami diperkenalkan dengan orang baru yang ternyata saudara jauh dengan mengatakan, “nah, mas/mbak kui prenahe <dik, mas, mbak, pakde, paklik, mbah dll>” (nah, mas/mbak itu tepatnya adalah <..>).

Jadi?

Saya berbagi tentang hal ini karena penasaran, apakah keluarga Anda menerapkan hal yang sama? Atau menerapkan panggilan sesuai usia; ‘mas’ untuk yang lebih tua, ‘dik’ untuk yang lebih muda, ‘mas’ untuk yang lebih tua sedikit padahal sesuai silsilah adalah ‘pakde’ (kakak dari bapak), dan kasus-kasus panggilan lainnya?

Omong-omong kalau saat ini keluarga pembaca tidak menerapkan panggilan sesuai silsilah, apakah di masa mendatang akan menerapkannya?

Saya tidak menspesialkan orang-orang yang menerapkan hal yang sama seperti keluarga saya, tetapi saya tertarik melihat orang lain dengan “kecenderungan yang sama”, mengingat di lingkungan saya pembiasaan untuk memanggil sesuai silsilah ini sudah sulit ditemukan, lebih banyak orang tua yang mengajarkan anaknya untuk memanggil sesuai umur.

Boleh nih isi jajak pendapat di bawah ini~

Featured image: Oleh Eric Ward [CC BY-SA 2.0], via Wikimedia Commons

22 pemikiran pada “Panggil Sesuai Usia atau Silsilah?

    1. Situ jadinya aman yak :3

      Yang agak “parah”, saya punya simbah (bulik ibu saya/anak simbah buyut saya) yang usianya gak beda jauhlah sama ibu. Beliau punya putri, lebih muda belasan tahun dari saya. Jadi, otomatis dia bulik saya.

      Awal ketemu dulu saya SMP/SMA, dianya TK/SD awal.

      Soal ini masih “realistis” lah, saya gak “dipaksa” buat panggil “bulik”. Haha

      Suka

  1. Gpp kalo manggil pak de…mas atau bahkan nenek sesuai istilah ke kita. Tapi kalo mereka lebih tua dari kita, tidak sopan rasanya kita hanya menyebut nama mereka.
    Karena kita gak hanya menjunjung norma adat, tapi juga etika masyarakat serta agama.
    Aku manggil kerabatku yg lebih tua dgn Om. Tapi dia hanya memanggilku nama, dan memperlakukanku lebih rendah darinya.
    Itu sungguh kurang ajar

    Suka

    1. โ€ฆ tidak sopan rasanya kita hanya menyebut nama mereka.

      Yes, saya tidak menyarankan untuk tidak menyebut nama langsung, tanpa awalan. Kultur keluarga saya adalah memanggil sesuai silsilah. Yang di atas dipanggil โ€˜masโ€™, yang di bawah dipanggil โ€˜dikโ€™, dsb tanpa memandang umur. Terutama saat di silsilah, saya dianggap tua, tetapi kalau dilihat dari umur, saya masih lebih muda.

      Beda kalau di silsilah saya berada di atas (lebih tua) dan silsilah bawah ada saudara yang lebih muda. Saya dapat memanggilnya tanpa awalan, langsung nama. Contohnya, saya yang berusia 20 thn memanggil anak dari adik ibu saya (adik sepupu) yang berusia 18 thn dengan nama langsung.

      Karena kita gak hanya menjunjung norma adat, tapi juga etika masyarakat serta agama.

      Norma adat, mungkin iya. Etika masyarakat, jelas pastinya. Agama, tidak. Misalnya, orang muda beragama Islam di Eropa atau Amerika pasti memanggil orang yang lebih tua dengan langsung memanggil nama. Ini soal budaya dan kebiasaan, bukan ajaran agama.

      Aku manggil kerabatku yg lebih tua dgn Om. Tapi dia hanya memanggilku nama, dan memperlakukanku lebih rendah darinya.

      Kalau ini tergantung konteks dan silsilah. Kalau memperlakukan lebih rendah karena memang ingin mengolok, yaa itu persoalan lain ๐Ÿ™‚

      Suka

  2. Ane pribadi punya pengalaman paling bingung, baru waktu kulian ini ane di kasih tau, sebenernya ibu yang nyusuin ane dan ngerawat ane dari orok sampe gede itu adalah kakak pertama ane sendiri, wow shock ga? Asli ane shock sampe kabur dari rumah, keluarga yang gua kenal selama ini rasanya ancurr banget, jadi ceritanya yang ane sebut uwa itu adalah ibu ane yang udah ga tau tinggalnya dimana? Jadi ceritanya waktu ane lahir ane itu miskin ga punya apa2 dan uwa(ibu ane) itu ga bisa ngeluarin susu juga, akhirnya minta susu ke tetangga,jadi kondisinya kakak(ibu ane yang sekarang) itu habis pulang kerja dapet kabar kalau ibu ane dah ngelahirin disitu kondisinya dia lagi hamil juga dan di ceraikan suaminya,seminggu ane lahir uwa(ibu asli ane) pergi dari rumah, katanya mau kerja ke malaysia, ia titip salam buat jagain ane, katanya 1 bulan lagi bakalan pulang, dan ia nitip siapa aja yang nyusuin ane bisa jadi ibunya ane begitu ceritanya isi suratnya, nah 2bulan setelaj ane di lahirin akhirnya kakak ane(ibu ane yang sekarang) ngelahirin anak juga yang sekarang jadi adik ane,nah disitu ibu(kakak ane) udah bisa memproduksi susu akhirnya anepun di susuin niatnya sampe nemu ibu susu yang lain, karena ga nemu akhirnya ibu(kakak ane) itu nyusuin ane terus sampe kira-kira sd kelas 5 karena ane anaknya manja jadi ya begitu kelamaan wkwwkwk, adek ane juga sama sampe sd,sama-sama laki-laki ya manjanya juga ketularan hehe,ane dari bener2 kecil udah manggil dia ibu,memang sudah seperti ibu sendiri ane sayang banget sama dia saking manjanya, nah jadi pernah tuh awal smp ane di telponin sama uwa(ibu ane yang asli) dia ngenal2in ane gitu dia bilang”udah gede ya kamu, sekarang sudah smp ya?”ya dari hasil perckapan itu dia ngabarin kalau dia itu sekarang tinggalnya di malaysia,habis itu telpon di alihkan lagi ke ibu ane(kakak ane) dia sambil nangis-nangis telponanya dan ane heran juga, kok manggil uwa kok ibu juga, habis itu ibu(kakak ane) dia tuh ngecup sama meluk ane sambil nangis, lanjut aja ke masa sma di mana sudah agak dewasa dikit, disini kondisinya ane pindah dari garut ke jakarta, di jakarta ane masuk stm(maaf ga di sebutin) dan ane masuk stm itu bandel banget tapi pinter, sering kena kasus tawuran, sedangkan adik ane masuk sma malah jadi raja bucin ane juga suka bucin hehe,nah disitu pas ceritanya ane habis pulang sekolah sekitar kelas 3 kok di rumah ada orang siapa ya? Pas ane buka pintu”halo nak sini”ane jawab ehh ada uwa, nah ane di peluk “wah gede yah sekarang badanya” Iya wa hehe, habis itu ibu ane nyamperin ane terus bilang gini”kamu jangan manggil uwa lagi ya, sekarang manggilnya ibu”ya ane nanya loh kenapa? Ya udah nurut ibu aja, ya udah ane nurut aja,setelah saling ngobrol, dia pamitan dan dia bilang juga kalau dia udah nikah sama orang malaysia serawak gitu dan jadi wn malaysia, dan iya pamitan sambil nangis dan peluk ane se-erat2nya,ane pun bingung, gini amatsih, lanjut ke masa kuliah, ane masuk kuliah, sebelum kuliah ane pernah kerja dulu di perkapalan bagian engine di kapal cargo selama 1 tahun, dan adik ane di rumah nganggur 1 tahun, setelah pulang ke indo ane pun coba daftar universitas swasta dan akhrinya masuk, sedangkan adik ane malah nyari pengalam kerja di perkapalan dan akhirnya dia kerja di kapal pesiar bagian cuci2 dan Ob , nah otomatis di rumah hanya ada ane sama ibu ane berdua aja, oh iya satu lagi ibu ane pernah sempet nikah waktu ane kelas 5sd tapi ga bertahan lama sampe ane kelas 6sd cerai lagi, karena laki2 itu selingkuh begitu,dan selama itu ibu ane itu single parent, karena masih trauma karena cinta, sekarang ane anak semester 4 di kampus,kejadian ini sebelum korona ya sekiranya desember lalu, ane sedang malem-malem nonton youtube, ibu ane kamar ane sambil meluk,a ibu boleh cerita ga? Iya boleh bu, dia dateng sambil bawa album sana kertas-kertas gitu, dia nyeritain semuanya, yanh and kaget itu ada foto bayi dan ibu ane juga kondisinya hamil, lalu ane nanya itu siapa? “Itu kamu” Terus ada foto uwa ane”kok ada uwa? “Itu sebenenya ibu asli yang ngelahirin kamu”ane langsung bengong, ane nanya lagi lalu ibu ini siapanya aku atuh? Dia sambil meluk ane” Kamu itu sebenernya adik kandung ibu, dan ibu ini aslinya kakak kamu, dan uwa kamu itu, itu ibu kamu yang asli yang udah ngelahirin kamu”ane sampe bengong dan antara bengong dan marah,asli disitu ane nangis juga, antara benci sama uwa ane dan antara kesel sama ibu ane,akhir itu ane keluar rumah sambil nangis ane keluar pake motor, dan kabur kerumah temen ane yang ada di karawang selama 2 hari, ane sempet minta solusi ke temen ane, akhirnya anepun sadar, dan akhirnya ane pun pulang, sudah sampe rumah sekitar jam 11malam ane langsung peluk ibu ane yannangih lagi nonton tv,sambil nangis ane maafin semua ane terima, cuman ane bingung kudu manggil apa? Terus ibu ane nyeletuk gini”kamu tetep panggil ibu ya karena ibu yang susuin kamu waktu kecil ibu yang rawat kamu jangan pernah panggil yang lain” Udah setelah itu kami sekeluarga baik-baik saja sampai sekarang meski sempet ada eneg sekarang sudah baik-baik aja. Dan untuk ibu yang udah lahirin ane ane sangat berterimakasih, untuk kakak yang sekarang sudah jadi ibu saya yang merawat saya dari bayi yang sekarang jadi ibu dari saya sendiri dan ku panggil ibu, terimakasih atas segalanya i love you ibu, maaf min jadi cerita, jangan di publish kemana-mana ya ane malu, cukup disini aja ane berbagi rasa.maaf itu pake email temen adik ane

    Suka

    1. Kompleks banget ya. Ibu kandung, ibu yang merawat sejak kecil, adik, Raihan sekeluarga semoga sehat terus. Keluarganya penuh berkah dan bahagia

      Hati saya benar-benar maknyes saat saya saya baca sampai “i love you” :’) Terima kasih yaa Raihan sudah mau berbagi di sini. Tetap strong! ๐Ÿ˜€

      Suka

      1. Iyaa mas terimakasih,saya yang segitu bangornya dulu sering tawuran begini begitu, dapet pengalaman begini nangis mas hampir seharian, ya begitu bittersweet kehdiupan ibu saya yang sekarang jadinya buka warung di rumah, dulunya karyawan pabrik yang gajinya hanya cukup menghidupi saya dan adik saya, ngontrak sana-sini, kalau sekarang udah punya rumah sama motor, meski ya kedalem gang gitu, tapi selalu bersyukur, makasih ya mas udah mau baca cerita kehidupan ane, respect sama masnya๐Ÿ‘ŒโœŒ

        Disukai oleh 1 orang

  3. Iya mas terimakasih, karena kejadian yang kayak saya ini jarang banget terjadi, sayapun belum pernah denger ada yang sama kejadianya seperti saya, saya boleh nanya ga mas? Kalau mas di posisi seperti saya bakalan ngapain? Terimakasih mas๐Ÿ‘Œ

    Suka

      1. Wahh nemu thread sharing bagus nih, Buset mas raihan stay strong ๐Ÿ‘, saya pribadi juga cukup unik, saya punya 2 ibu juga tapi yang satu lagi bukan ibu tiri, tapinya anak dari bude saya sendiri, jadi ibu saya itu anak paling kecil dari nenek saya sekitar anak ke-4 gitu, terus bude saya yang pertama itu punya anak,nah anak pertamanya budeku ini hamil samaan juga sama ibu saya btw itu ibu saya lagi ngandung ,Btw saya anak bungsu dari 3 bersaudara, jadi ibuku itu sempet ambil kerja gitu di surabaya,sedangkan aku di gersik,aku sempet di titipin ke rumah budeku,karena saya nangis terus gitu ga ada susu, dan hanya anaknya bude saya aja yang bisa menyusui karena punya anak bayi juga, jadinya saya di susuin juga,saat ibu saya pengen jemput saya,dia heran kok saya ga mau pulang nangis melulu,akhirnya anaknya bude sayapun ini cerita dia kalau dia yang nyusuin saya,kata ibu saya oh pantes, ga taunya sayapun selalu di titipin di bude saya, bahkan sampe nginep gitu, ya saya di susuin sama dia sampe umur 5 tahun,nah mulai dari situ dia jadi ibu susu saya,saya manggilnya mamah, untuk suaminya saya panggil ayah, mereka udah anggap saya anak dan saya anggap mereka orangtua saya juga, saya pernah nanya gini waktu kecil”kok mas, adit sama mas ihsan manggil mamah kok mbak? Dia cuman jawab gini kan mereka adik mamah, cuman kamu anak mamah, ya sampe sekarang saya sering kerumahnya buat nginep, hal yang paling pasti itu seminggu sekali wajib nginep di rumahnya, ya begitudah rasanya punya 2 ibu๐Ÿ˜…yaa begitu min. Kalau admin sendiri bingung juga sama silsilah keluarga,saya juga kadang bingung sama silsilah kelurga tapi kalau di keluarga saya asal tua dipanggil mas atau ga mbak udah begitu aja, lagian ibu saya anak terakhir hehe jadi ga punya bibi๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…

        Suka

  4. Ya begitu mas, silsilah kadang rumit,saya juga punya ibu susu sebenernya lebih dari 3, ya karna dulu sering di titip-titipin karena orang tua berkerja,anak bude saya yang ke-3 ada yang lebih muda dari saya sekiranya beda 2 tahun tapi dia masih panggil saya mas, saya panggil dia adek,sebenernya banyak mas kasus silsilah yang bingung begini,cuman belum pada open mungkin ada malu-malu atau belum ketemu tempatnya, saya pribadi baru nemu blog ini, saat saya liat komentar ternyata Mas Raihan itu rumit banget yang pernah saya baca, mungkin kalau saya di posisi mas raihan kalau ga kuat udah strees kali,tapi saya pernah baca tentang ibu susu gitu, tapi intinya kalau dia sudah menyusui saya berkali-kali kalau ga salah lebih dari 5 dia jadi ibu saya, seperti itu๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…

    Suka

    1. Kalau memang gak nyaman buat panggil sesuai silsilah, memang lebih baik panggil sesuai usia mas ๐Ÿ™‚ Karena manggil sesuai istilah itu sesuai kebiasaan keluarga itu sendiri, gak bisa dalam keadaan tiba-tiba, hehe. Saya kurang tahu juga sih detail hukumnya soal berapa kali menyusui untuk kemudian disebut sebagai ibu ๐Ÿ˜…

      Untuk saat ini, yang penting keluarga sehat dan rumah nyaman ditinggali ๐Ÿ’ช๐Ÿฝ ๐Ÿ˜€

      Suka

  5. Iyaa mas itu mamah saya suka pernah cerita-cerita soal silsilah gitu yang harusnya manggil dia mbak, tapi karena saya anaknya juga jadi manggil dia mamah,saya dulu sempat bingung sampai nanya ke ibu kandung saya lagi,”bu kok mas ihsan sama mas adit manggil mamah ina kok mbak ina, dia juga jawabanya sama”kamu kan anak mamah ina sama anak ibu juga, ya kalau begitu nothing wrong, dulu saya tk juga yang nganterin sama yang nemenin saya juga mamah,karena ibu saya itu sibuk kerja, ya begini mas sampe saya sekolah smp pun yang biayain mamah saya, kalau ibu saya itu fokus ke para mas-mas saya, sekarang saya sudah kerja itu juga karena mamah ina,tapi ya saya mah bersyukur aja dapet keluarga yang harmonis dan bisa mendukung saya๐Ÿ˜…sampe saya di jodoh2in sama anak temenya mamah,malah dia ngebet saya nikah padahal saya juga punya pacar, tapi hanya selintas gini kejadian begitu mahh intinya tetep bersyukur juga dan tetap sehat, ternyata masih banyak yang lebih rumit dari kita,malah ada juga yang ga punya keluarga, tetep sehat ya mas RAMDZIANA yang punya blog ini๐Ÿ˜๐Ÿ˜‡

    Suka

      1. Wahh komen sama blognya bagus nih, kalau di keluarga saya panggilan untuk anggota keluarga ya terkadang bagaimana kebiasaan contohnya:Ayah saya punya keponakan nah keponakanya itu lebih tua banget hanpir seumuran dengan mamah saya tapi saya sama abang saya manggil dia tante dia manggil kita dengan dik kalau gak nak,terus kalau adiknya ayah kita panggil ibu/bapak semua, kalau kakak dari ayah kita panggil kadang uwa/atok/umi di keluarga saya asal ada yang umurnya jauh atau udah berumah tangga kita manggilnya kadang tante kadang juga kakak, kalau lebih muda yah kadang dik๐Ÿ˜

        Suka

  6. Mau sharing juga nih mas,sayakan anak ke 2 dari 2 bersaudara, waktu 2017 lalu ibu saya itu ngangkat anak dari nenek saya,nenek saya itu hamil tua di umur ke 68 setelah melahirkan nenek sayapun meninggal jadi tinggal anaknya aja yang baru lahir, ya berati itu jadi bibi saya,tapi ibu saya malah yang merawat dan memberi asi ke bibi saya yang baru lahir ini dan dengan rundingan keluarga ibu saya mau ngangkat bibi saya yang baru lahir itu jadi anaknya,selang sebulan setelah nenek melahirkan,oh iya sebelumnya alm kakek saya itu meninggal waktu nenek saya masih hamil 4 bulan, ia meninggal gara-gara serangan jantung meninggal di umur ke 74,jadi gimana ya saya punya adik tapi sebenernya itu bibi sendiri tapi karena ke kandungan dan mungkin sepersusuan gitu ya jadi sauadara kandung lama-lama akte lahirnya jadi nama ibu saya juga dan sekarang jadi anggota keluarga kita yang paling imut,dan adik yang paling gemesin๐Ÿ˜…

    Suka

  7. Kalau di keluarga saya sih tergantung kebiasaan,ya soalnya gini nih keponakan ibu saya aja saya panggil bunda, terus ibu sama ayahnya saya panggil nenek dan kakek, padahal itu tuh adiknya ibu saya tapi saya panggil nenek dan kakek, jadi sewaktu kecil saya di rawat sama keponaknya ibu saya itu dan otomatis saya bermain dengan anaknya juga, ya lama2 kelamaan manggilnya jadi samaan deh.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s