Internet memang kejam. Dia “melahirkan” beragam sikap manusia yang di dunia nyata sebenarnya sulit ditemukan. Salah satu sikap tersebut adalah trolling yang dilakukan oleh tukang troll.

Jadi, siapakah Troll?

Saya tidak menemukan asal muasal pasti kata “troll”. Apakah makhluk Skandinavia yang mengerikan dan jahat? Atau berasal dari kata “trolling” yang berarti memancing (ikan) dengan tali?

Yang jelas, kata “troll” yang saya maksud adalah orang yang mengirim pesan (atau juga pesan itu sendiri) di internet dengan tujuan untuk membangkitkan tanggapan emosional atau kemarahan dari pengguna lainnya. Saya mengambil arti ini dari Wikipedia.[1]

Keterangan di atas terlalu umum, sehingga saya mengelompokkan siapa saja troll yang dimaksud. Berikut pengelompokannya:

  1. Troll adalah orang yang memaksakan kultur komunitas mereka masuk ke kultur komunitas lain

    Troll punya komunitas sendiri. Namun bukan komunitas yang secara implisit menamakan diri sebagai “ Komunitas Troll“, bukan, tetapi komunitas tertentu yang anggota-anggotanya membiasakan diri bertindak sebagai troll.

    Para troll ini bukanlah troll ketika mereka membahas sesuatu di komunitas mereka sendiri. Namun, mereka akan menjadi troll ketika mereka memaksakan kultur troll komunitas mereka ke komunitas lain.

    Contohnya, anak Yimyam. Mereka bukanlah troll saat mereka mendiskusikan suatu peristiwa dengan candaan khas mereka di komunitas Yimyam. Namun, ketika mereka membawa-bawa kultur candaan mereka ke komunitas lain, saya akan menamakan mereka seorang troll.

    Sikap troll ini sepertinya sulit dibenahi, karena sudah mengakar kuat dan mengasumsikan semua orang disekitarnya adalah orang troll atau orang yang harus mendapatkan sikap trolling.

  2. Troll adalah orang ngeyel
    Ketika sedang mendiskusikan sesuatu, apakah kamu pernah menemukan orang ngeyel? Pasti pernah, saya pun pernah.

    Kata “ngeyel” yang saya maksud merujuk pada sikap “diberitahu tapi tidak mendengarkan dan melakukan”. Kalau dalam budaya Jawa disebut Blungentuwa atau Mlebu tengen metu kiwa (Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri).

    Contohnya, ketika seseorang bernama X mengaku masih pemula ikut nimbrung di komunitas tertentu. Si X tidak mengindahkan ketika orang-orang di komunitas tersebut sudah memberitahu dirinya bahwa ia harus melakukan ini itu untuk mendapatkan ini itu.

    Troll seperti ini sulit dijinakkan karena mereka sudah dari sananya ngeyel dan dengan mudah meremehkan sesuatu.

  3. Troll adalah orang yang sedang emosional dan memaksa diri untuk terjun dalam sebuah diskusi
    Untuk kategori ini, sikap trolling muncul sesuai situasi dan kondisi. Kita mungkin pernah menjadi troll secara sadar atau tidak dan masuk di kategori ini.[2]

    Troll jenis ini hanya angin lalu, yang tidak terlalu membahayakan komunitas, karena ia hanya menjadi troll satu dua kali dan tidak berminat untuk melakukannya lagi.

Mengatasi troll di internet

Untuk mengatasi troll di internet atau komunitas daring cukup sederhana.

  1. Diamkan

    Jangan tanggapi seorang troll. Kalau dalam bahasa Inggris populer dengan: “Don’t feed the trolls“. Seorang troll akan bosan sendiri ketika mereka didiamkan karena trolling yang mereka lakukan tidak berhasil. Jangan keburu jadi orang ini.

    Lalu bagaimana kita tahu kalau dia seorang troll jika tidak ditanggapi?

    Tergantung situasi. Jika ada penggemar sepeda BMX masuk ke komunitas daring Polygon, kemudian menjelek-jelekkan Polygon dan mengunggulkan sepeda BMX. Apa iya kita harus menanggapi mereka?

    Selain situasi tersebut. Kita boleh menanggapi mereka dengan kalimat-kalimat tertentu untuk memastikan bahwa mereka troll atau bukan. Tak ada rumus kalimat yang digunakan di langkah ini. Itu tergantung kita.

  2. Tanggapi dan peringatkan

    Jika sudah ditanggapi beberapa kali, ada potensi trolling yang disampaikan oleh orang terduga troll, diamkan dulu. Jika mereka kembali mengulanginya beberapa kali, peringatkan.

  3. Keluarkan

    Jika peringatan sudah tidak mereka indahkan dan mereka berulang kali melakukan hal sama serta membuat gaduh komunitas, keluarkan. Tak perlu ragu.

Troll sangat mengganggu. Saya akui itu. Jadi, semoga informasi di atas cukup berguna. Jika ada tips atau informasi lain jangan ragu untuk menghubungi saya atau berikan komentar di bawah ini. 🙂

Saya punya wejangan untuk para troll:

Jadilah troll bermartabat dan baik hati dengan cara menutup mulut.

Oiya, saya adalah anggota dan administrator/moderator beberapa komunitas daring. Pandangan di atas adalah “riset” saya saat memegang dua “jabatan” tersebut.


1. https://id.wikipedia.org/wiki/Troll_internet, diakses tanggal 18 April 2017, pukul 12.43
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s